Rabu, 09 November 2011

Pengertian Akhlak

A. Pengertian Akhlak
Kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab, yaitu jama’ dari kata “khuluqun” yang secara linguistik diartikan dengan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tata karma, sopan santun, adab dan tindakan. Kata akhlak juga berasal dari kata “khalaqa” atau “khalqun”, artinya kejadian, serta erat hubungannya dengan “Khaliq”, artinya menciptakan, tindakan atau perbuatan, sebagaimana terdapat kata “al-khaliq”, artinya pencipta dan “makhluq”, artinya yang diciptakan.
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al-‘Alaq ayat 1-5


1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

B. Pengertian Etika
Kata “etika” bersal dari bahasa Yunani, yaitu “ethos” artinya adat kebiasaan. Etika merupakan istilah lain dari akhlak atau moral, tetapi memiliki perbedaan yang subtansial karena konsep akhlak berasal dari pandangan agama terhadap tingkah laku manusia.
Etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yang disistematisasi dari hasil pola pikir manusia.





C. Pengertian Moral
Kata “moral” berasal dari bahasa Latin “mores” kata jama’ dari “mos” berarti adat kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia, moral diterjemahkan dengan arti tata susila. Moral adalah perbuatan baik dan buruk yang didasarkan pada kesepakatan masyarakat.
Moral merupkan istilah tentang perilaku atau akhlak yang diterapkan kepada manusia sebagai individu maupun sebagai sosial.
Tujuan moral, yaitu tindakan yang diarahkan pada target tertentu, misalnya ketertiban sosial, keamanan dan kedamaian, kesejahteraan, dan sebagainya.

Artinya : 168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

D. Landasan Sosial Normatif
Norma berasal dari kata “norm”, artinya aturan yang mengikat suatu tindakan dan tingkah laku manusia. Landasan normatif akhlak manusia sebagai individu salah satunya :
- Landasan normatif berasal dari ajaran islam, yaitu Al-quran dan As-sunnah, dan berlaku pula untuk ajaran-ajaran lainnya yang banyak dianut oleh umat manusia, seperti umat Hindu dan umat Budha.

E. Al-Quran Sebagai Landasan Normatif
Dalam agama islam, landasan normatif akhlak manusia adalah Alquran dan As-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah SWT. Dalam surat Al-Qalam ayat 4
    
Artinya : Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.


F. Landasan Filofis Akhlak Manusia
Filsafat adalah pengetahuan yang mementingkan rasio dalam menggali kebenaran yang sifatnya formal maupun materil. Filsafat adalah seni kritik yang bukan semata-mata membatasi diri pada destruksi atau seakan-akan takut untuk membawa pandangan positifnya sendiri.
Bukti bahwa Al-quran memberikan dorongan agar segala hal harus menggunakan akal adalah ayat Allah SWT berikut ini :

Artinya : 142. Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus".
G. Landasan Metodologi
Metode yang tepat dalam mempelajari kaidah-kaidah sosial yang berlaku dalam pembentukan akhlak manusia dimasyarakat adalah metode deskriptif, yaitu berusaha mencatat, melukiskan, menguraikan, dan melaporkan buah pikiran, sikap, tindak dan perilaku masyarakat dengan berbagai gejala sosial yang berkembang kaitannya dengan hukum yang berlaku.
H. Qiyas Sumber Hukum Islam Keempat
Qiyas diartikan pula dengan at-taqdir wa at-taswiyah, artinya menduga dan mempersamakan.

Artinya : 267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.




I. Metode Ijtihad
Ijtihad berasal dari kata “jahda”, artinya “al-ma’yaqqah” ( sulit, atau berat, susah atau sukar).

Artinya: 38. Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui,
A. Studi Tentang Masyarakat
Salah satu kajian penting dari ilmu akhlak adalah perilku sosial atau masyarakat. Kehidupan masyarakat di mana pun adanya secara sosiologis akan menjalani proses interaksi struktural, yaitu sebagai interaksi yang dipaksa, dibimbing, didorong, dan diyakini oleh system yang berlaku di lingkungan sosial yang merupakan lingkungan strukturalnya.
B. Kajian Akhlak Tentang Manusia
Manusia adalah salah satu makhluk yang diciptakan ALLAH SWT dengan sangat sempurna yang perkembangannya paling pesat di dunia.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 1 :

Artinya : 1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.





C. Kajian Tentang Jiwa
Ilmu akhlak sebagai ilmu yang mempelajari adanya jiwa dan kehidupan yang diilustrasikan oleh tingkah laku manusia. Ilmu akhlak adalah suatu studi sistematik tentang tingkah laku, kegiatan-kegiatan individu yang berhubungan dengan lingkungan, dan mengkaji proses mental manusia yang tercermin dalam responsitas kehidupan.
Keadaan manusia demikian, digambarkan oleh ajaran Al-Quran sebagai sifat manusia munafik yang kehidupannya penuh dengan kebohongan,penghianatan, dan selalu menggunting dalam lipatan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 6-8 :

Artinya : 6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
7. Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka[20], dan penglihatan mereka ditutup[21]. dan bagi mereka siksa yang amat berat.
8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[22]," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
D. Pembagian Akhlak
1. Akhlak Falsafi, yaitu akhlak yang menggali kandungan Al-Quran dan As-Sunnah secara mendalam.
2. Akhlak Amali, yaitu akhlak dalam arti yang sebenarnya, berupa perbuatan, yaitu less talk do more, sedikit bicara banyak bekerja.
3. Akhlak Fardhi, yaitu perbuatan seorang manusia yang tidak terkait dengan orang lain.
Akhlak Ijtima’I, yaitu tindakan yang disepakati secara bersama-sama, misalnya akhlak oraganisasi.
E. Macam-macam Akhlak
1. Takhalli
2. Tahalli
3. Tajalli

F. Dorongan Berakhlak pada manusia
a. Persepsi
b. Belajar


G. Akhlak Dalam Perdagangan


Artinya : 29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

H. Akhlak Dalam Berumah Tangga

Artinya : 3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

[265] berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
[266] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat Ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad s.a.w. ayat Ini membatasi poligami sampai empat orang saja.







I. Akhlak Dalam Berpolotik

58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.



















Tugas Mandiri Dosen Pengampu
Akhlak Tasawuf Nasrul HS, Spd.I. MA

RESUME
ILMU AKHLAK
( Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si., dkk.)
Identitas Buku :
Judul Buku : Ilmu Akhlak
Pengarang : Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si., dkk
306 hlm.; 16 x 24 cm
Cetakan ke I : Februari 2010
Diterbitkan oleh : CV PUSTAKA SETIA BANDUNG

RAMLAN
10911005968

Tidak ada komentar:

Posting Komentar